Sejumlah Pengurus Mundur, KONI Makassar Pastikan Persiapan Porprov 2026 Tetap Berjalan
MAKASSAR – Pergantian sejumlah pengurus di tubuh Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kota Makassar tidak menghentikan roda organisasi. Di tengah dinamika internal tersebut, KONI Makassar memastikan program pembinaan atlet dan persiapan menghadapi Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Sulawesi Selatan XVIII 2026 tetap berjalan sesuai agenda.
Kepala Bidang Organisasi KONI Kota Makassar, Andi Mallombassi, menegaskan pengunduran diri sejumlah pengurus merupakan bagian dari proses penataan organisasi dan tidak berkaitan dengan persoalan substansial yang dapat mengganggu jalannya program.

Penegasan itu disampaikan Andi dalam konferensi pers di Makassar, Senin (13/7/2026).
“Secara internal memang ada dinamika. Hal itu tidak terlepas dari perubahan sistem tata kelola organisasi yang sedang kami terapkan di KONI Kota Makassar,” kata Andi.
Tata Kelola Organisasi Diubah
Menurut Andi, kepengurusan KONI Makassar saat ini tengah mendorong pola kerja yang lebih aktif dan profesional. Perubahan tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan efektivitas organisasi dalam menjalankan fungsi pembinaan olahraga prestasi.
Salah satu kebijakan yang telah disepakati melalui rapat pleno adalah pembatasan rangkap jabatan, khususnya ketua cabang olahraga (cabor) yang juga menjabat sebagai pengurus KONI Makassar.
Ketua cabor tidak diperbolehkan merangkap sebagai pengurus KONI, kecuali dalam kondisi tertentu yang memang dibutuhkan organisasi.
Kebijakan tersebut menjadi bagian dari penataan struktur dan pembagian peran agar tugas masing-masing unsur organisasi dapat berjalan lebih optimal.
Pengurus Dituntut Lebih Aktif
Perubahan bukan hanya terjadi pada struktur, tetapi juga pada pola kerja pengurus.
Andi menjelaskan, pengurus KONI Makassar kini didorong untuk lebih aktif terlibat dalam aktivitas organisasi. Salah satu penerapannya adalah kewajiban untuk hadir di Kantor KONI Makassar setidaknya tiga kali dalam sepekan guna membahas program kerja, koordinasi, serta agenda pembinaan olahraga.
Menurutnya, ritme kerja tersebut membutuhkan komitmen dan kemampuan beradaptasi dari setiap pengurus.
“Kami melihat alasan pengunduran diri yang disampaikan pada umumnya lebih kepada persoalan kesibukan dan keterbatasan waktu untuk menyesuaikan dengan ritme kerja di KONI Makassar. Tidak ada persoalan yang bersifat substansial,” ujarnya.
Ia mengatakan sebagian pengurus kemungkinan mengalami kesulitan menyesuaikan diri dengan pola kerja baru karena memiliki kesibukan pekerjaan maupun aktivitas lain di luar organisasi.
“Barangkali ada rekan-rekan yang karena kesibukan pribadi atau pekerjaan lain belum bisa menyesuaikan dengan pola kerja yang sekarang, sehingga memilih mengundurkan diri dari kepengurusan,” tuturnya.
Fokus Tetap pada Porprov Sulsel 2026
Meski terjadi perubahan di internal kepengurusan, KONI Makassar memastikan agenda organisasi tidak berhenti.
Perhatian utama saat ini diarahkan pada persiapan kontingen Kota Makassar menghadapi Porprov Sulawesi Selatan XVIII 2026 yang akan berlangsung di Kabupaten Bone dan Kabupaten Wajo.
Berbagai program pembinaan dan persiapan atlet tetap menjadi prioritas untuk memastikan kontingen Makassar mampu tampil kompetitif dalam ajang olahraga tingkat provinsi tersebut.
Dinamika Internal Tak Boleh Ganggu Prestasi
Bagi KONI Makassar, penataan organisasi dan pencapaian prestasi merupakan dua hal yang harus berjalan beriringan. Perubahan struktur maupun pola kerja dinilai diperlukan untuk membangun organisasi yang lebih efektif, sementara program pembinaan atlet harus tetap berjalan tanpa terganggu dinamika internal.
Andi menegaskan KONI Makassar tetap berkomitmen menjaga soliditas organisasi sekaligus memastikan seluruh sumber daya diarahkan untuk kepentingan pembinaan olahraga prestasi.
Dengan agenda Porprov 2026 yang semakin dekat, konsistensi kerja organisasi menjadi faktor penting. KONI Makassar dituntut memastikan perubahan internal justru menjadi momentum untuk memperkuat koordinasi, memperjelas tanggung jawab, dan meningkatkan kualitas pembinaan atlet.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan penataan organisasi bukan hanya terletak pada perubahan struktur, tetapi pada seberapa efektif KONI Makassar mengubah pembenahan internal tersebut menjadi prestasi di arena Porprov Sulawesi Selatan XVIII 2026.








