KONI Makassar Perkuat Guru Olahraga, Pembinaan Atlet Dimulai dari Sekolah
MAKASSAR – Upaya melahirkan atlet berprestasi di Kota Makassar tidak hanya dilakukan ketika seorang atlet sudah masuk arena pertandingan. Fondasinya justru dibangun sejak bangku sekolah.
Karena itu, Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kota Makassar mulai memperkuat kapasitas guru olahraga tingkat Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) melalui Sosialisasi dan Pelatihan Pelatih Tingkat Dasar.
Kegiatan yang digelar Bidang Pendidikan dan Penataran KONI Makassar di Baruga Agar Jaya, Kantor KONI Kota Makassar, pada 4–5 Agustus 2026 tersebut diarahkan untuk meningkatkan kompetensi guru dalam melakukan pembinaan olahraga sejak usia dini.
Bukan sekadar pelatihan teknis, kegiatan ini juga menjadi upaya menyamakan pemahaman mengenai penerapan ilmu keolahragaan modern dalam proses pembinaan atlet pelajar.
Guru Olahraga Jadi Titik Awal Pencarian Bibit Atlet
Kepala Bidang Pendidikan dan Penataran KONI Kota Makassar, Zainal, mengatakan guru olahraga memiliki posisi strategis karena menjadi salah satu pihak yang paling dekat dengan calon atlet sejak usia sekolah.
Menurutnya, kemampuan guru dalam mengenali potensi peserta didik perlu diikuti dengan pemahaman mengenai metode pembinaan yang tepat.
“Kegiatan ini bertujuan menyamakan persepsi tentang ilmu keolahragaan modern kepada guru-guru olahraga SD dan SMP di Kota Makassar agar pembinaan atlet sejak usia dini dapat berjalan lebih terarah, sistematis, dan sesuai dengan perkembangan ilmu kepelatihan saat ini,” ujar Zainal, Rabu (5/8).
Menurut Zainal, pembinaan atlet usia dini tidak cukup hanya mengandalkan bakat. Proses latihan juga harus mempertimbangkan perkembangan fisik, kemampuan teknik, serta aspek psikologis anak.
Karena itu, pengetahuan guru mengenai prinsip latihan, pembinaan fisik, teknik dasar hingga aspek psikologis atlet perlu terus diperbarui.
Bukan Sekadar Mengejar Juara
Salah satu persoalan dalam pembinaan atlet usia muda adalah kecenderungan mengukur keberhasilan hanya dari hasil kompetisi.
KONI Makassar ingin pendekatan tersebut diperluas. Pembinaan atlet usia sekolah harus memperhatikan proses pertumbuhan dan perkembangan anak agar latihan yang diberikan tidak hanya efektif, tetapi juga sesuai dengan tahapan perkembangan mereka.
“Kami ingin membangun kesamaan pemahaman di antara para guru olahraga sehingga proses pembinaan tidak hanya berorientasi pada kompetisi, tetapi juga memperhatikan tahapan perkembangan atlet secara ilmiah dan berkelanjutan,” tambahnya.
Dengan pemahaman tersebut, guru olahraga diharapkan mampu menerapkan metode latihan yang lebih tepat di sekolah masing-masing sekaligus mengenali peserta didik yang memiliki potensi untuk dikembangkan lebih lanjut.
KONI Makassar Siapkan Fondasi Regenerasi
Ketua KONI Kota Makassar, Ismail, mengatakan peningkatan kapasitas guru olahraga merupakan bagian penting dari proses membangun regenerasi atlet.
Ia berharap ilmu yang diperoleh dalam pelatihan tidak berhenti setelah kegiatan selesai, tetapi diterapkan dalam proses pembinaan di sekolah.
“Kami berharap pelatihan ini memberikan manfaat nyata bagi para guru olahraga sehingga ilmu yang diperoleh dapat diterapkan di sekolah masing-masing. Dari sinilah diharapkan lahir bibit-bibit atlet berbakat yang nantinya mampu mengharumkan nama Kota Makassar, baik di tingkat provinsi, nasional, maupun internasional,” kata Ismail.
Menurutnya, atlet berprestasi membutuhkan proses panjang. Karena itu, investasi pada sumber daya manusia yang menangani atlet sejak usia dini menjadi bagian penting dalam membangun prestasi olahraga daerah.
Melalui pelatihan tersebut, KONI Makassar berupaya memperkuat fondasi pembinaan dengan menempatkan sekolah dan guru olahraga sebagai bagian dari mata rantai pencarian serta pengembangan atlet masa depan.








