KONI Makassar Bidik Bibit Atlet dari Sekolah, Guru Didorong Jadi Ujung Tombak Pemanduan Bakat

MAKASSAR – Upaya mencetak atlet berprestasi di Kota Makassar mulai diarahkan sejak bangku sekolah. Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kota Makassar mendorong guru untuk mengambil peran lebih besar dalam menemukan peserta didik yang memiliki potensi olahraga dan mengarahkannya ke jalur pembinaan yang tepat.

Dorongan tersebut mengemuka dalam Workshop Iptek Pemanduan Bakat Atlet yang digelar KONI Kota Makassar di Sekretariat KONI Kota Makassar, Sabtu (8/8).

Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi KONI Makassar membangun sistem pembinaan atlet yang tidak hanya berorientasi pada prestasi jangka pendek, tetapi juga menyiapkan regenerasi atlet secara berkelanjutan.

ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT

Guru Jadi Mata Rantai Awal Pencarian Atlet

Ketua Panitia sekaligus Kepala Bidang Penelitian dan Pengembangan KONI Kota Makassar, Andi Reza, mengatakan sekolah memiliki posisi penting dalam proses pencarian bibit atlet.

Menurutnya, guru merupakan pihak yang berinteraksi langsung dengan peserta didik sehingga memiliki peluang besar untuk mengenali kemampuan dan potensi olahraga sejak dini.

“Bapak dan Ibu Guru memiliki peran yang amat strategis dalam mengenali potensi serta mengembangkan bakat peserta didik, khususnya dalam bidang olahraga,” kata Andi Reza.

Karena itu, pemanduan bakat tidak seharusnya hanya dilakukan ketika seorang anak sudah menunjukkan prestasi di tingkat kompetisi. Identifikasi potensi sejak dini dinilai penting agar seorang calon atlet dapat memperoleh pembinaan sesuai karakteristik dan cabang olahraga yang tepat.

KONI dan Sekolah Perkuat Kolaborasi

Melalui workshop tersebut, KONI Makassar ingin membangun pemahaman yang sama antara insan olahraga dan lingkungan pendidikan.

Kolaborasi tersebut diharapkan dapat menciptakan jalur yang lebih jelas bagi peserta didik yang memiliki potensi olahraga, mulai dari proses identifikasi hingga mendapatkan pembinaan lebih lanjut.

“Kami berharap dapat terbangun pemahaman bersama serta kolaborasi yang semakin erat antara KONI Kota Makassar dan pihak sekolah dalam mendukung pembinaan dan pengembangan atlet berprestasi,” ujarnya.

Andi Reza juga menyampaikan apresiasi kepada Ketua KONI Kota Makassar beserta jajaran pengurus atas dukungan dan arahan sehingga kegiatan tersebut dapat terlaksana.

Apresiasi serupa diberikan kepada para narasumber dan peserta yang mengikuti workshop. Ia berharap materi yang diperoleh tidak berhenti di ruang kegiatan, tetapi dapat diterapkan di lingkungan sekolah masing-masing.

“Semoga kegiatan ini memberikan manfaat yang dapat diterapkan di lingkungan sekolah masing-masing, sehingga turut mendukung lahirnya atlet-atlet berprestasi di Kota Makassar,” katanya.

Ismail: Atlet Berprestasi Tidak Lahir Secara Instan

Ketua Umum KONI Kota Makassar, Ismail, menegaskan dukungannya terhadap program pemanduan bakat tersebut.

Menurut Ismail, membangun atlet berprestasi membutuhkan proses panjang. Karena itu, sistem pembinaan harus dimulai dengan kemampuan mengidentifikasi potensi atlet sebelum mereka memasuki jenjang kompetisi yang lebih tinggi.

“Kegiatan seperti ini sangat penting karena proses melahirkan atlet berprestasi tidak bisa dilakukan secara instan. Potensi atlet harus dikenali sejak dini, kemudian dibina secara terarah dan berkelanjutan,” kata Ismail.

Ia menilai guru memiliki posisi strategis karena berada paling dekat dengan peserta didik dalam aktivitas sehari-hari.

Melalui pengamatan yang dilakukan secara konsisten, guru dapat membantu mengidentifikasi anak-anak yang memiliki kemampuan fisik, koordinasi, minat, maupun karakter yang berpotensi dikembangkan menjadi atlet.

“Kami berharap sinergi antara KONI dan sekolah semakin kuat. Guru dapat menjadi mitra strategis KONI dalam menemukan anak-anak yang memiliki potensi olahraga untuk kemudian mendapatkan pembinaan yang lebih terarah,” ujarnya.

Bukan Sekadar Mencari Atlet untuk Kompetisi

Bagi KONI Makassar, pemanduan bakat merupakan bagian dari investasi jangka panjang olahraga daerah.

Identifikasi atlet sejak usia sekolah memungkinkan proses pembinaan dilakukan lebih awal dan terukur. Atlet yang ditemukan juga dapat diarahkan sesuai potensi dan kebutuhan cabang olahraga masing-masing.

Dengan pola tersebut, KONI Makassar tidak hanya mencari atlet ketika menghadapi sebuah kejuaraan, tetapi membangun rantai regenerasi atlet yang diharapkan mampu menjaga kesinambungan prestasi Kota Makassar.

Ismail menegaskan KONI Kota Makassar akan terus mendorong program pembinaan yang melibatkan sekolah sebagai bagian dari upaya mencetak atlet-atlet muda potensial.

Target akhirnya bukan hanya melahirkan juara untuk satu kompetisi, tetapi membangun generasi atlet Makassar yang mampu bersaing dan mengharumkan nama daerah di berbagai level kejuaraan.

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna